Mapala UI Bangun Ekonomi Desa dan Kembangkan Wisata Dirgantara di Maluku
Selain menjelajah angkasa Maluku Utara, Mapala UI turut menerapkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat, melalui program UIMN 2026 di Desa Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Program ini resmi dibuka pada Selasa, 11 Agustus 2026 dan akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan.
Pelaksanaannya turut didukung oleh Pemerintah Desa Wailulu dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Darussalam (Darmapala Ambon).

“Sebagai mahasiswa selain punya kewajiban di dalam kelas kita juga punya kewajiban di luar kelas, salah satunya untuk berdampak pada masyarakat Indonesia.
Maka dari itu, UIMN hadir sebagai wadah pengabdian masyarakat dengan tujuan menambah nilai komoditas lokal untuk meningkatkan pendapatan ekonomi lokal,” ujar Nivand selaku Project Officer UIMN 2026.
Desa Wailulu sebagai desa binaan menyimpan potensi kelapa yang besar, dengan hasil panen raya yang bisa mencapai sekitar 30 ton. Di balik kelimpahan tersebut, potensi sebesar itu belum diimbangi dengan harga jual yang sepadan. Selama ini, kelapa hasil panen warga hanya diolah menjadi kopra (daging kelapa yang dikeringkan), dengan harga jual yang cukup rendah dan cenderung fluktuatif. Harga jual kopra sangat bergantung pada tengkulak yang menjadi perantara utama penjualan kopra.
Sementara itu, harga yang ditawarkan tengkulak tidak selalu konsisten sehingga pendapatan masyarakat Desa Wailulu yang berprofesi sebagai petani kelapa pun tidak menentu dari musim ke musim.
Melihat kesenjangan antara potensi dan realita ini, UIMN 2026 hadir untuk mengenalkan variasi komoditas kelapa kepada masyarakat. Pengolahan kelapa mentah menjadi tepung kelapa memiliki nilai jual sekaligus peluang pasar yang jauh lebih luas dibanding kopra. Rangkaian programnya dirancang secara bertahap, mulai dari sosialisasi inovasi produk, praktik pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa, demonstrasi olahan tepung kelapa menjadi produk pangan siap konsumsi, hingga pembentukan komunitas kerja dan penyerahan aset produksi kepada warga agar keberlanjutan usaha dapat terus berjalan setelah program selesai.
Program ini menyasar tiga kelompok sekaligus, yakni petani kelapa sebagai penyedia bahan baku, komunitas masyarakat yang terlibat dalam proses produksi, serta pelaku UMKM lokal yang nantinya memasarkan produk olahan tersebut. Tujuannya bukan sekadar transfer keterampilan, melainkan membangun fondasi ekonomi desa yang stabil dan berkelanjutan.
“Harapan beta, selesai dari kegiatan ini, bukan selesai juga hasilnya. Namun, ibu-ibu PKK maupun UMKM menjadikan dia (tepung kelapa) sebagai salah satu produk unggulan yang ada di Negeri Wailulu,” ucap Muslim Tounussa, Bapak Raja Negeri Wailulu.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar