Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Mapala UI Bangun Ekonomi Desa dan Kembangkan Wisata Dirgantara di Maluku
Advertisement . Scroll to see content

Menghayati Ketenangan Politik Husain Alting Sjah dalam Bisingnya Demokrasi di Maluku Utara

Rabu, 27 November 2024 | 09:33 WIB
  • author Tim iNews Ternate
Menghayati Ketenangan Politik Husain Alting Sjah dalam Bisingnya Demokrasi di Maluku Utara
Demokrasi liberal adalah panggung yang gaduh. Ia dipenuhi slogan, manipulasi opini, dan kompromi yang sering kali mengorbankan kepentingan rakyat. Foto: Ilustrasi

Hari Esok: Medan Pertarungan Dialektis

H-1 adalah momen penentuan. Esok, rakyat Maluku Utara tidak sekedar mencoblos nama tetapi mereka memilih antara mempertahankan hegemoni oligarki atau membuka jalan bagi transformasi sosial. Dalam lensa Materialisme Dialektika Historis ; demokrasi adalah arena perjuangan kelas di mana suara rakyat sering kali dikooptasi oleh kepentingan modal.

Namun, ketenangan Husain Alting Sjah menunjukkan arah baru. Ia menolak terjebak dalam kegaduhan politik transaksional yang menjadikan rakyat hanya alat untuk kepentingan sesaat. Ketenangan ini bukan pasifisme, tetapi keberanian untuk menghadapi sistem yang korup dengan mengorganisasi kekuatan rakyat secara strategis.

Sebagaimana Gramsci pernah menulis, “Dalam setiap pertempuran, optimisme kehendak harus mengatasi pesimisme intelek.” Husain Alting Sjah adalah manifestasi dari optimisme itu. Ia memahami bahwa perjuangan bukan tentang seberapa besar suara yang diteriakkan, tetapi tentang seberapa dalam akar yang ditanamkan.

Ketenangan sebagai Strategi Revolusioner

Dalam konteks politik hari ini, ketenangan Husain Alting Sjah adalah bentuk perlawanan terhadap narasi hegemoni. Ia memilih untuk tidak larut dalam drama politik, karena ia tahu bahwa revolusi sejati tidak lahir dari kegaduhan, tetapi dari proses panjang pengorganisasian, pembelajaran, dan pembebasan.

Kepada konstituen, esok adalah medan pertempuran kita. Setiap suara yang diberikan adalah pernyataan sikap terhadap sejarah. Dalam kebisingan demokrasi, suara kita adalah senjata yang harus diarahkan untuk menghancurkan hegemoni dan membangun tatanan baru yang adil.

Editor: Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut